
Menilai apakah sebuah saham layak dibeli tidak cukup hanya dengan melihat pergerakan harganya di pasar. Diperlukan analisis menyeluruh yang mencakup kinerja keuangan, prospek industri, serta pendekatan valuasi yang mencerminkan nilai intrinsik perusahaan.
Salah satu emiten yang menarik perhatian di sektor agribisnis adalah PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Perusahaan ini memainkan peran penting dalam rantai pasok pangan nasional, khususnya di bidang produksi pakan ternak, pembibitan ayam, dan pengolahan hasil peternakan.
Dengan fundamental yang mulai menunjukkan perbaikan dan tren pemulihan permintaan protein hewani di dalam negeri, JPFA menjadi kandidat menarik untuk dianalisis secara fundamental. Ruang Belajar Investasi akan mencoba untuk menghitung dan mengevaluasi harga wajar saham JPFA menggunakan pendekatan valuasi relatif (PER dan PBV), serta model arus kas diskonto (DCF), guna menentukan apakah saham ini masih menyimpan potensi apresiasi di tahun 2025.
Profil Singkat JPFA
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) merupakan salah satu perusahaan agribisnis terbesar dan terintegrasi di Indonesia. Didirikan pada tahun 1975, JPFA bergerak di berbagai lini industri peternakan, termasuk produksi pakan ternak, pembibitan ayam (DOC), pembesaran unggas, dan pengolahan hasil ternak.
Dengan jaringan distribusi yang luas serta fasilitas produksi yang tersebar di seluruh Indonesia, JPFA memiliki skala ekonomi yang kuat dan efisiensi rantai pasok yang kompetitif. Selain pasar domestik, JPFA juga aktif melakukan ekspor ke beberapa negara Asia dan Timur Tengah.
Perusahaan ini menempati posisi penting dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani nasional dan telah membangun reputasi sebagai penyedia produk ternak berkualitas.
Kinerja Keuangan JPFA
Kinerja keuangan JPFA dalam lima tahun terakhir menunjukkan dinamika yang kuat. Setelah mengalami tekanan signifikan pada 2022 dan sebagian 2023, JPFA berhasil membalikkan keadaan pada akhir 2023 dan terus membukukan pertumbuhan yang solid hingga kuartal pertama 2025.
Sorotan Kinerja Keuangan:
- Laba Bersih (TTM Q1 2025): Rp3,034 triliun
- EPS (TTM): Rp257,44
- Free Cash Flow (2024): Rp3,149 triliun
- Ekuitas (2024): Rp16,572 triliun
- Jumlah Saham Beredar: 12 miliar lembar
Kinerja tersebut menunjukkan pemulihan operasional dan efisiensi keuangan yang positif. Lonjakan laba bersih yang signifikan sejak 2023 menjadi sinyal bahwa JPFA telah berhasil menyesuaikan struktur biaya dan memperbaiki profitabilitas di tengah fluktuasi harga bahan baku.
Kinerja Keuangan Terbaru (Per September 2025)
JPFA menunjukkan pemulihan kinerja yang sangat solid pasca-pandemi dan fluktuasi bahan baku pada 2021–2022. Berdasarkan laporan keuangan 9M25 yang dirilis OCBC Sekuritas:
Sorotan Kinerja:
- Pendapatan 9M25: Rp43,1 triliun (+4,4% YoY)
- Laba Bersih 9M25: Rp2,41 triliun (+15,1% YoY)
- Laba Bersih Q3 2025 (triwulan): Rp1,18 triliun (+111,4% QoQ)
- Margin Kotor: 20,2%
- Margin Laba Bersih: 5,6%
📌 JPFA telah mencapai 88,7% dari estimasi laba bersih 2025 dalam 9 bulan pertama — menandakan kemungkinan realisasi di atas target.
Kontributor Pertumbuhan:
- Segmen Broiler tumbuh +22,2% QoQ
- Segmen Feed naik +17,1% QoQ
- Segmen DOC tumbuh +24,1% QoQ
Kinerja ini diperkuat oleh stabilnya harga jual ayam, meningkatnya permintaan dari program pemerintah, dan efisiensi biaya dari penurunan harga bahan baku tertentu seperti soybean meal.
Prospek Industri Agribisnis di 2025
1. Permintaan Protein Hewani yang Semakin Tinggi
Indonesia sebagai negara dengan populasi besar dan kelas menengah yang terus tumbuh, menghadirkan potensi permintaan protein hewani yang sangat besar. Konsumsi ayam per kapita terus meningkat, dan tren ini diprediksi berlanjut pada 2025.
2. Stabilisasi Harga Bahan Baku
Harga jagung dan kedelai yang sebelumnya sangat fluktuatif menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Ini menjadi faktor kunci dalam menjaga margin produsen pakan seperti JPFA.
3. Dukungan Kebijakan Pemerintah
Program ketahanan pangan nasional, pembatasan impor, serta subsidi untuk sektor peternakan mendorong iklim usaha yang lebih kondusif bagi pelaku agribisnis dalam negeri.
4. Transformasi Teknologi
Adopsi teknologi seperti smart farming dan digitalisasi proses produksi memberi peluang peningkatan efisiensi, baik dalam produktivitas maupun pengendalian biaya.
5. Risiko Eksternal
Meski prospek terlihat positif, tantangan tetap ada. Faktor eksternal seperti perubahan iklim, penyakit ternak, dan volatilitas nilai tukar masih menjadi risiko utama yang perlu diantisipasi.
Ringkasan Laba Bersih (Net Income):
| Tahun | Laba Bersih (Rp triliun) |
| 2020 | 916 miliar |
| 2021 | 1,624 triliun |
| 2022 | 461 miliar |
| 2023 | 930 miliar |
| 2024 | 3,019 triliun |
| TTM Q1 2025 | 3,034 triliun |
Insight: Setelah tertekan pada 2022, laba bersih JPFA melonjak hampir 6,5 kali lipat dalam dua tahun, mencerminkan perbaikan struktural dalam operasional dan efisiensi biaya.
Free Cash Flow (FCF)
| Tahun | FCF (Rp triliun) |
| 2020 | 2,362 |
| 2021 | -933 |
| 2022 | -684 |
| 2023 | 302 |
| 2024 | 3,149 |
Insight: JPFA sempat mengalami arus kas negatif selama 2021-2022, yang menunjukkan tekanan likuiditas dan tingginya belanja modal. Namun, pada 2024, FCF pulih secara signifikan, menjadi sinyal positif bagi kapasitas internal pembiayaan.
Ekuitas (Book Value)
| Tahun | FCF (Rp triliun) |
| 2020 | 11,412 |
| 2021 | 13.103 |
| 2022 | 13,655 |
| 2023 | 14,167 |
| 2024 | 16,572 |
Insight: Ekuitas tumbuh rata-rata sekitar 9,7% per tahun selama 2020-2024, mencerminkan akumulasi laba ditahan dan manajemen neraca yang sehat.
EPS (Earnings per Share) dan ROE (Estimasi)
- EPS TTM Q1 2025: Rp257,44
- Jumlah saham beredar: 12 miliar
- ROE 2024 (Estimasi kasar):
ROE sebesar 18% tergolong sangat kompetitif di sektor agribisnis, menunjukkan efisiensi penggunaan modal yang tinggi.
Kinerja JPFA mengalami fase pemulihan yang kuat sejak 2023. Laba bersih dan FCF melonjak drastis, serta rasio profitabilitas menunjukkan peningkatan efisiensi operasional. Hal ini menjadi fondasi kuat untuk mendukung valuasi saham yang lebih tinggi.
Pendekatan Penilaian Saham JPFA
Menentukan apakah saham JPFA layak dikoleksi tidak hanya bergantung pada kinerjanya saat ini, tetapi juga seberapa jauh harga pasar mencerminkan nilai intrinsiknya. Untuk itu, digunakan tiga pendekatan valuasi utama:
Valuasi Berdasarkan PER (Price to Earnings Ratio)
PER adalah metode valuasi relatif yang membandingkan laba per saham dengan harga pasar. Dengan asumsi EPS TTM sebesar Rp 275 dan menggunakan rata-rata PER sektor agribisnis 10x-15x, diperoleh estimasi nilai wajar sebagai berikut:
| Skenario | PER | Nilai Wajar (Rp) |
| Konservatif | 10x | 2.750 |
| Moderat | 12x | 3.300 |
| Optimis | 15x | 4.125 |
Harga pasar saat ini: Rp 2.460, berarti JPFA diperdagangkan ~10-40% di bawah nilai wajarnya secara PER.
Valuasi Berdasarkan DCF (Discounted Cash Flow)
DCF digunakan untuk menghitung nilai intrinsik berdasarkan proyeksi arus kas bebas (Free Cash Flow) di masa depan. Menggunakan asumsi berikut:
- FCF 2024: Rp3,149 triliun
- Pertumbuhan konservatif: 13% per tahun
- WACC: 11%
- Terminal growth: 3%
- Saham beredar: 12 miliar
Jika JPFA kembali ke PBV rata-rata:
Nilai Wajar = 1,37 x 1.381 = Rp 1891
Saat ini JPFA sedikit di bawah nilai wajarnya secara historis PBV, namun tidak berlebihan. Artinya, ada ruang apresiasi moderat jika valuasi kembali ke rata-rata.
Ringkasan Tiga Metode Valuasi
| Metode | Estimasi Nilai Wajar | Keterangan |
| PER (12x) | Rp3.300 | Upside 40%+ |
| DCF | Rp8.204 | Sangat undervalued |
| PBV (5YR avg) | Rp 2.044 | Overvalued |
Kesimpulan sementara: Ketiga metode secara konsisten menunjukkan bahwa saham JPFA masih undervalued, dengan potensi apresiasi terbesar ditunjukkan oleh model DCF.
Risiko dan Tantangan JPFA
Meskipun prospek dan valuasi JPFA terlihat menjanjikan, penting bagi investor untuk memahami risiko-risiko utama yang dapat mempengaruhi kinerja dan valuasi perusahaan di masa depan:
1. Fluktuasi Harga Bahan Baku
Komponen utama biaya produksi JPFA berasal dari bahan baku seperti jagung dan kedelai, yang sebagian besar masih diimpor. Perubahan harga global atau gangguan logistik dapat menekan margin perusahaan, terutama di lini pakan ternak.
2. Risiko Biologis dan Penyakit Ternak
Industri peternakan memiliki risiko inheren terkait penyakit seperti flu burung dan infeksi bakteri yang dapat menurunkan produktivitas, meningkatkan biaya medis, bahkan menyebabkan kerugian massal.
3. Ketergantungan terhadap Impor dan Nilai Tukar
Sebagian bahan baku dan peralatan produksi masih diimpor, sehingga depresiasi rupiah terhadap dolar AS dapat meningkatkan beban biaya operasional secara signifikan.
4. Ketatnya Persaingan Industri
Selain berhadapan dengan sesama pemain besar seperti Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), JPFA juga bersaing dengan pemain lokal skala menengah dan importir. Persaingan harga di segmen ayam hidup (live bird) dan DOC bisa menekan margin keuntungan.
5. Ketidakpastian Regulasi
Perubahan kebijakan impor, subsidi, harga acuan, hingga aturan tata niaga pangan oleh pemerintah dapat berdampak langsung terhadap operasi dan pendapatan JPFA, baik positif maupun negatif.
Kesimpulan dan Rekomendasi
JPFA kini diperdagangkan pada harga Rp2.460, setelah mengalami kenaikan signifikan dalam 6 bulan terakhir. Namun, valuasi saat ini belum sepenuhnya mencerminkan potensi kinerja fundamental dan pertumbuhan yang diproyeksikan hingga 2026.
Dengan dukungan:
- Laba bersih yang terus naik
- Margin yang stabil
- FCF positif & kuat
- Proyeksi EPS naik
- Dukungan program pemerintah
…JPFA tetap merupakan salah satu saham unggulan di sektor peternakan dan agribisnis.
Akhirnya saya masuk di harga 1600an, sehingga masih oke dari segi margin of safety dan harga wajarnya. Kamu bisa cek analisa saya yang lain di saham BBRI dan BBNI untuk mendapatkan referensi yang lain.
Tabel Valuasi
| Metode | Nilai Wajar | Harga Sekarang | Potensi Upside |
| PER (12x) | Rp3.300 | Rp2.460 | +34% |
| DCF | Rp8.204 | Rp2.460 | +233% |
| PBV (5YR avg) | Rp2.044 | Rp2.460 | Premium |
Dengan harga pasar saat ini Rp2.460, saham JPFA tetap tergolong undervalued, terutama dari pendekatan PER dan DCF. PBV juga masih menunjukkan saham sudah overvalued.
Disclaimer: Artikel dibuat untuk edukasi, bukan ajakan menjual atau membeli. Resiko ditanggung masing-masing investor
Tinggalkan Balasan